Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Kemlayan Surakarta untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Solo di Masa Imlek Ini

surakartaimlek

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Kauman Surakarta untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta karena Kota Solo tidak bisa dilepaskan dari budaya Chinese. Masyarakat Tionghoa di Surakarta sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Tionghoa yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Tionghoa ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Tionghoa di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Tionghoa adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Chinese ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Tionghoa, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Chinese juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukiman Chinese dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita dapat menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Ki Dalang berusaha mengajak Generasi muda agar menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Caleg Rohmad Hadiwijoyo. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Mojosongo Solo..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Karangasem Surakarta untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Tionghoa di Solo di Masa Imlek Ini

surakartapecinan

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Sangkrah Surakarta untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Tionghoa di Solo karena Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari budaya Tionghoa. Masyarakat Chinese di Surakarta sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Tionghoa yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Tionghoa ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Tionghoa di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Chinese adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Chinese ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Tionghoa, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Chinese ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Tionghoa juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukimanTionghoa dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita dapat menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Caleg Rohmad Hadiwijoyo berusaha mengajak Golongan muda agar menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Saya. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Kratonan Solo..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Laweyan Solo untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta di Masa Imlek Ini

surakartapecinan

 

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Sewu Surakarta untuk Flash Back Sejarah Kaum Chinese di Surakarta karena Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari budaya Chinese. Masyarakat Chinese di Solo sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Chinese yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Chinese ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Chinese di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Chinese adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Chinese ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Chinese, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Chinese ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Chinese juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukimanTionghoa dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Caleg Rohmad Hadiwijoyo berusaha mengajak Golongan muda supaya menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Saya. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Sumber Solo..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Keprabon Solo untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Tionghoa di Solo di Masa Imlek Ini

surakartaimlek

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Semanggi Surakarta untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Chinese di Surakarta karena Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari budaya Chinese. Masyarakat Chinese di Solo sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Chinese yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Tionghoa ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Chinese di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Chinese adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Tionghoa ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Tionghoa, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Chinese juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukimanTionghoa dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Rohmad Hadiwijoyo berusaha mengajak Golongan muda supaya menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Ki Dalang. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Purwadiningratan Solo..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Sriwedari Surakarta untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta di Masa Imlek Ini

surakartaimlek

 

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Sumber Solo untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Chinese di Surakarta karena Kota Solo tidak bisa dilepaskan dari budaya Tionghoa. Masyarakat Tionghoa di Solo sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Tionghoa yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Tionghoa ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Tionghoa di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Chinese adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Chinese ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Tionghoa, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Chinese juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukiman Chinese dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita dapat menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Rohmad Hadiwijoyo berusaha mengajak Generasi muda agar menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Saya. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Purwosari Surakarta..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga KepatihanKulon Solo untuk Napak Tilas Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta di Masa Imlek Ini

surakartapecinan

 

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Gilingan Surakarta untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta karena Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari budaya Tionghoa. Masyarakat Tionghoa di Surakarta sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Chinese yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Chinese ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Tionghoa di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Tionghoa adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Tionghoa ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Tionghoa, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Tionghoa. Masyarakat Chinese ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Tionghoa juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukimanTionghoa dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita bisa menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Ki Dalang berusaha mengajak Golongan muda agar menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Caleg Rohmad Hadiwijoyo. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Tegalharjo Surakarta..

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Mangkubumen Solo untuk Menelusuri Sejarah Kaum Tionghoa di Surakarta di Masa Imlek Ini

surakartapecinan

 

Ketua PRSSNI Ki Dalang Rohmad Hadiwijoyo Mengajak Warga Sewu Solo untuk Menelusuri Sejarah Kaum Chinese di Surakarta karena Kota Surakarta tidak bisa dilepaskan dari budaya Chinese. Masyarakat Chinese di Surakarta sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Tundjung W Sutirto mengatakan bahwa belum ada referensi yang dapat menarasikan secara komprehensif kapan dan siapa orang Tionghoa yang pertama kali bermukim di Solo.

“Namun, kalau merujuk pada sejarah Surakarta, maka bisa dijelaskan bahwa hadirnya masyarakat Tionghoa ke Solo tidak bisa lepas dari perpindahan Kerajaan Kartosura ke Surakarta pada 1745,” papar Tundjung saat dihubungi Tribun, Jumat (1/1/2019). “Sebenarnya di akhir masa Kerajaan Pajang, komunitas Tionghoa itu sudah ada tapi pada waktu itu masih merupakan tentara bayaran.”

Pada masa Kerajaan Kartasura, komunitas Chinese yang ada merupakan migran dari Batavia atau Jakarta. “Penguasa kerajaan saat itu, Pakubuwono II dan Patih Notokusumo sangat mengapresiasi kesuksesan komunitas Tionghoa dalam menata perekonomian masyarakat di Kartosura. Maka saat Kerajaan Kartosura pindah ke Surakarta sebagai akibat dari krisis politik Geger Pecinan, banyak warga Tionghoa ikut pindah ke Surakarta,” jelas Tundjung.

Tundjung menuturkan saat masa kolonial Belanda muncul politik segresi etnis yang kemudian membuat komunitas Chinese ditempatkan di suatu wilayah yang sekarang dikenal dengan Kampung Sudiroprajan. Ditempatkannya komunitas Chinese di Sudiroprajan yang terletak tak jauh dari Benteng Vastenburg itu bukan tanpa alasan. Dosen Ilmu Budaya UNS, Susanto mengatakan pada waktu itu masyarakat Chinese adalah partner dagang Belanda. Itulah mengapa masyarakat Chinese ditempatkan tak jauh dari benteng buatan Belanda.

Ada hal menarik dari pemukiman masyarakat Chinese, yaitu selalu ada benteng di dekatnya. hal ini akibat dari hubungan dagang yang terjalin antara orang Belanda dengan masyarakat Chinese. Masyarakat Chinese ini yang membuka toko dan lapak di pasar-pasar di dekat pemukiman orang Belanda. Selain di Solo dekat Benteng Vastenburg tadi, di kota lain seperti Semarang, lokasi pemukiman Tionghoa juga pasti di dekat benteng. Begitu halnya dengan yang ada di Tegal, Jakarta, Cirebon, dan kota-kota lain.

Selain akulturasi arsitektur pemukiman Chinese dan Belanda, ada akulturasi budaya ant

“Akulturasi tentu melalui sebuah proses yang waktunya panjang sehingga sejak adanya pertemuan dua budaya maka sejak itulah terjadi akulturasi. Jadi kalau melihat lagi sejarah keberadaan Tionghoa di Solo ya berarti akulturasi itu berlangsung sudah sangat lama,” ucap Tundjung.

Keberadaan masyarakat yang heterogen tentu memunculkan berbagai tafsiran mengenai perlunya upaya dalam membangun harmoni antar umat. Keharmonian dapat dicapai dengan berbagai upaya, salah satunya dengan berbasis budaya lokal. Salah satunya tokoh wayang Semar yang begitu terkenal dan penuh dengan pesan moral dan nilai-nilai. Dalam cerita pewayangan, ada nilai-nilai yang dapat dijadikan teladan oleh masyarakat. Melalui wayang pula, kita dapat menjaga kelestarian budaya Indonesia sendiri. Dalam tokoh wayang Semar, nilai-nilai ikhlas, toleransi, kebebasan, kejujuran, persaudaraan, dan kebijaksanaan merupakan upaya konstruk dalam mewujudkan keharmonian. Nilai-nilai ini memberikan pesan tentang pentingnya upaya dalam usaha membangun harmoni.

Caleg Rohmad Hadiwijoyo berusaha mengajak Generasi muda supaya menjaga harmoni kehidupan yang heterogen. Kita boleh berbeda latar belakang dan pandangan politik. Namun, hidup yang berharga perlu digunakan untuk menyebar manfaat yang besar dengan kolaborasi dengan masyarakat yang heterogen demi kemajuan daerah. Hubungi admin rohmadhadiwijoyo.com untuk komunikasi dengan Rohmad Hadiwijoyo. Yuk ngopi bareng buat warga di daerah Mojosongo Surakarta..